Kelas, sebagai tempat belajar bisa menjadi faktor pendukung keberhasilan pembelajaran bisa juga berperan kontraproduktif. Kelas bisa memberi kenyamanan dan rasa aman, bisa pula menjadi tempat yang terasa sumpek. Semua tergantung bagaimana cara mengelola ruang kelas.
Yang pertama diperhatikan adalah ukuran kelas. Kelas yang terlalu besar akan mengakibatkan kesulitan dalam memfokuskan anak. Kalau kelasnya terlalu kecil, anak tidak punya ruang gerak yang cukup. Ukuran kelas juga tergantung tingkat aktifitas. Untuk kelas bawah, dimana butuh ruang aktifitas yang besar, ukuran kelas hendaknya tidak sama dengan kelas atas yang kebutuhan akan ruang sudah berkurang.
Kelas tertentu, misalnya laboratorium atau kelas seni, membutuhkan ruang yang besar. Aktifitas di kelas-kelas tersebut memerlukan ruang gerak yang bebas.
Ruang kelas juga harus terasa aman dan nyaman. Aman dalam arti anak bisa beraktifitas tanpa terganggu kemungkinan terjadi kecelakaan atau kerusakan. Dalam hal ini hendaknya di dalam kelas tidak terdapat barang-barang yang mudah pecah. Kalaupun ada, disimpan dalam tempat yang aman.
Kelas yang aman mensyaratkan kuatnya bangunan sehingga kecil kemungkinan akan rubuh. Bahan-bahan pembuatnya juga tidak mengandung bahan-bahan yang beracun dan berbahaya.
Ventilasi dan pencahayaan juga merupakan faktor yang penting. Keduanya mempengaruhi tingkat kenyamanan di dalam kelas.
Nah, sekarang waktunya menjadikan ruang kelas temapt yang menarik. Bagaimana warnanya? Tata ruangnya seperti apa? Warna menstimulasi dan menimbulkan emosi-emosi tertentu. Kita sudah sama tahu, emosi berperan penting dalam pembelajaran.
Penataan kelas yang teratur dan rapi menumbuhkan kecintaan anak terhadap kelasnya. Juga mengarahkan anak untuk selalu rapi dan teratur pula. Posisi meja dan kursi anak bukanlah bersifat fleksibel. Sewaktu-waktu dapat diganti sesuai keperluan.
Sedangkan posisi papan tulis dipilih tempat yang enak untuk dilihat dari tempat duduk anak. Akan lebih baik kalau papan tulis juga bisa dipindah tempatkan.
Hiasan, poster, tulisan-tulisan juga membangun bisa membangun suasan kelas yang ideal. Kuncinya, hiasan, poster, ataupun tulisan tersebut mempunyai kekuatan menggerakkan, mempunyai daya mendorong, serta menarik anak untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Hiasan, poster, dan tulisan bersifat positif dan menimbulkan emosi positif.
Untuk mengajarkan materi tertentu, setting kelas bisa diubah sesuai materinya. Ketika mempelajari mempelajari benda-benda luar angkasa, setting kelas bisa berupa suasana ruang angkasa
Tampilkan postingan dengan label suasana kelas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label suasana kelas. Tampilkan semua postingan
Selasa, 25 Januari 2011
Lingkungan yang Kondusif Untuk Belajar
Lingkungan belajar tidak terbatas pada lingkungan fisik saja. Atmosfer yang dibangun juga merupakan faktor lingkungan yang berpengaruh cukup besar terhadap suasana pembelajaran. Suasana kelas merupakan pencerminan gaya manajemen kelas yang diterapkan guru.
Gaya manejemen yang permisif membiarkan anak melalukan apapun yang diinginkan tanpa ada kontrol yang kuat, serta tidak ada dukungan untuk mengembangkan keterampilan belajar. Akibatnya anak secara akademis kurang menguasai dan mempunyai kontrol diri yang lemah.
Gaya manejemen kelas yang otoritarian menekankan pada ‘ketertiban’, suasana yang kaku dan jalinan komunikasi yang buruk. Relasi guru-murid seperti halnya penguasa-rakyat, atasan-bawahan. Dalam kelas seperti ini anak-anak tidak berkembang kemampuan berpikir kreatif karena selalu dibatasi. Cenderung pasif dan tidak percaya diri. Kemampuan berkomunikasi dan mengekspresikan diri juga kurang berkembang.
Gaya manajemen kelas yang lebih baik adalah gaya otoritatif. Dalam gaya ini, anak memperoleh kebebasan tetapi masih ada kontrol-kontrol yang sifatnya tidak membatasi. Guru membuat aturan ataupun prosedur berdasarkan masukan dari anak, serta memberi penjelasan logis kenapa aturan tersebut dibuat.
Suasana kelas dibuat nyaman, dimana anak terbebas dari perasaan tertekan, cemas, dan takut, sekaligus penuh dengan tantangan. Kenyamanan dibangun oleh adanya penerimaan dan perasaan dipahami oleh orang lain. Dalam hal ini, guru memberi teladan bagaimana menerima orang lain apa adanya serta menunjukkan empati dan simpati kepada orang lain.
Penerimaan dan empati melahirkan rasa percaya diri dan menumbuhkan kepercayaan pada orang lain. Selanjutnya, hal ini akan mengangkat harga diri sang anak sehingga bisa mengaktualisasikan kemampuan dengan lebih baik. Ini adalah modal yang sangat berharga bagi kemajuan pembelajaran dan perkembangan kepribadian.
Selain dari sikap yang ditunjukkan warga kelas (dan sekolah), lingkungan yang kondusif juga memerlukan aturan, prosedur, kebijakan, dan kesepakatan sebagai pagar yang melindungi dari kemungkinan terjadinya penyimpangan.
Ada perbedaan antara aturan, prosedur, kebijakan, dan kesepakatan. Kesepakatan merupakan usaha-usaha untuk mendukung pemeblajaran yang lancar. Misalnya mendengarkan ketika ada yang sedang berbicara. Kebijakan adalah tindakan yang diambil pada situasi tertentu, untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Misalnya adanya penambahan hari untuk mengerjakan proyek bagi anak yang tidak masuk karena sakit, sejumlah hari dia sakit.
Prosedur menekankan tindakan dan apa yang diharapkan dilakukan anak. Prosedur memberi pedoman langkah-langkah apa yang harus dilakukan anak untuk kegiatan-kegiatan tertentu. Misalnya berdoa sebelum pelajaran dimulai. Prosedur menghasilkan kestabilan, kendali, dan struktur. Sedangkan peraturan dilengkapi dengan konsekunsi yang jelas jika terjadi pelanggaran. Konsekuensi tersebut merupakan konsekuensi logis yang masuk akal, tidak menyakiti fisik, serta tidak bermaksud untuk mempermalukan.
Fungsi aturan, prosedur, kebijakan, dan kesepakatan bukanlah untuk membatasi, tetapi memberikan kepastian dan struktur yang terarah. Anak akan merasa aman bila tahu dalam koridor yang mana boleh beraktivitas.
Supaya efektif, anak perlu tahu secara jelas apa peraturan, prosedur, kebijakan, dan kesepakatan yang berlaku. Akan lebih baik kalau anak dilibatkan dalam pembuatannya. Rasa tanggungjawab akan lebih besar jika anak terlibat.
Gaya manejemen yang permisif membiarkan anak melalukan apapun yang diinginkan tanpa ada kontrol yang kuat, serta tidak ada dukungan untuk mengembangkan keterampilan belajar. Akibatnya anak secara akademis kurang menguasai dan mempunyai kontrol diri yang lemah.
Gaya manejemen kelas yang otoritarian menekankan pada ‘ketertiban’, suasana yang kaku dan jalinan komunikasi yang buruk. Relasi guru-murid seperti halnya penguasa-rakyat, atasan-bawahan. Dalam kelas seperti ini anak-anak tidak berkembang kemampuan berpikir kreatif karena selalu dibatasi. Cenderung pasif dan tidak percaya diri. Kemampuan berkomunikasi dan mengekspresikan diri juga kurang berkembang.
Gaya manajemen kelas yang lebih baik adalah gaya otoritatif. Dalam gaya ini, anak memperoleh kebebasan tetapi masih ada kontrol-kontrol yang sifatnya tidak membatasi. Guru membuat aturan ataupun prosedur berdasarkan masukan dari anak, serta memberi penjelasan logis kenapa aturan tersebut dibuat.
Suasana kelas dibuat nyaman, dimana anak terbebas dari perasaan tertekan, cemas, dan takut, sekaligus penuh dengan tantangan. Kenyamanan dibangun oleh adanya penerimaan dan perasaan dipahami oleh orang lain. Dalam hal ini, guru memberi teladan bagaimana menerima orang lain apa adanya serta menunjukkan empati dan simpati kepada orang lain.
Penerimaan dan empati melahirkan rasa percaya diri dan menumbuhkan kepercayaan pada orang lain. Selanjutnya, hal ini akan mengangkat harga diri sang anak sehingga bisa mengaktualisasikan kemampuan dengan lebih baik. Ini adalah modal yang sangat berharga bagi kemajuan pembelajaran dan perkembangan kepribadian.
Selain dari sikap yang ditunjukkan warga kelas (dan sekolah), lingkungan yang kondusif juga memerlukan aturan, prosedur, kebijakan, dan kesepakatan sebagai pagar yang melindungi dari kemungkinan terjadinya penyimpangan.
Ada perbedaan antara aturan, prosedur, kebijakan, dan kesepakatan. Kesepakatan merupakan usaha-usaha untuk mendukung pemeblajaran yang lancar. Misalnya mendengarkan ketika ada yang sedang berbicara. Kebijakan adalah tindakan yang diambil pada situasi tertentu, untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Misalnya adanya penambahan hari untuk mengerjakan proyek bagi anak yang tidak masuk karena sakit, sejumlah hari dia sakit.
Prosedur menekankan tindakan dan apa yang diharapkan dilakukan anak. Prosedur memberi pedoman langkah-langkah apa yang harus dilakukan anak untuk kegiatan-kegiatan tertentu. Misalnya berdoa sebelum pelajaran dimulai. Prosedur menghasilkan kestabilan, kendali, dan struktur. Sedangkan peraturan dilengkapi dengan konsekunsi yang jelas jika terjadi pelanggaran. Konsekuensi tersebut merupakan konsekuensi logis yang masuk akal, tidak menyakiti fisik, serta tidak bermaksud untuk mempermalukan.
Fungsi aturan, prosedur, kebijakan, dan kesepakatan bukanlah untuk membatasi, tetapi memberikan kepastian dan struktur yang terarah. Anak akan merasa aman bila tahu dalam koridor yang mana boleh beraktivitas.
Supaya efektif, anak perlu tahu secara jelas apa peraturan, prosedur, kebijakan, dan kesepakatan yang berlaku. Akan lebih baik kalau anak dilibatkan dalam pembuatannya. Rasa tanggungjawab akan lebih besar jika anak terlibat.
Langganan:
Postingan (Atom)