Mungkin R.A. Kartini akan menangis jika melihat bangsa Indonesia saat ini. Tentu saja beliau tidak akan menangisi pemilu legislatif dan semua kejadian yang mengikutinya. Tidak juga bencana alam dan kecelakaan yang datang silih berganti. Beliau akan menangis karena sampai sekarang belum juga terbit terang seperti yang diharapkan. Hanya gelap yang tiada habis-habisnya.
Perjuangan Kartini untuk memajukan bangsanya terjawab oleh kondisi dunia pendidikan yang masih bergelut dengan gelap yang menyertainya. Gelap, sebab tujuan pendidikan, yaitu membentuk manusia yang seutuhnya, terpotong jalannya. Terpotong oleh praktik pendidikan yang menghasilkan manusia yang tidak utuh.
Disebut tidak utuh karena dunia pendidikan hanya peduli pada satu atau beberapa aspek saja. Lebih tegas lagi, hanya nilai-nilai akademislah yang menjadi ukuran keberhasilan. Keberhasilan sekolah dan juga keberhasilan murid. Wajar jika kemudian nilai akademis begitu diagung-agungkan, seolah-olah jaminan masa depan yang cerah. Kalau nilai akademis tidak bagus, hancurlah segala-galanya.
Maka berlomba-lombalah mendapatkan nilai akademis yang tinggi. Celakanya, banyak yang terjebak, mungkin lupa, bahwa nilai akademis tidak akan bernilai apa-apa jika aspek lain yang ada dalam diri anak tidak dikembangkan. Nilai yang tinggi tidak mampu menolong seseorang menjawab tantangan jamannya, tidak bisa membantu seseorang memecahkan masalahnya.
Tapi karena masih dalam situasi gelap, maka tidak terlihat apa yang sebenarnya terjadi. Maka terjadilah akumulasi kesalahan memahami, yang kemudian membentuk sebuah opini kuat dan menyebar luas. Yang namanya sekolah ya hanya bertugas membuat anak bagus dalam akademis. Yang penting anak pinter.
Membuat anak jadi pintar tentu saja bukan tujuan yang salah, bahkan bagus. Tapi tidak cukup itu. Tujuan akhir dari belajar adalah perubahan tingkah laku. Jadi setelah anak tahu, paham, mengerti, proses belajar tidak berhenti. Harus ada usaha yang terprogram dan terkontrol hingga pengetahuan anak mampu membawa perubahan sikap dan tingkah laku, tentu saja menjadi lebih baik.
Saat menyusun rencana pembelajaran, seorang guru hendaknya sudah mempunyai tujuan nilai apa yang harus dicapai muridnya ketika materi sudah dipelajari. Nilai-nilai itu tentu saja yang relevan dengan materi terkait.
Apa pentingnya memberikan atribut nilai dalam pembelajaran? Materi dalam kurikulum kebanyakan berupa pengetahuan saja. Pengetahuan memang bisa menjadikan seseorang pandai, tapi belum tentu bisa menjadikan seseorang bermoral baik. Seseorang yang banyak pengetahuan tetapi bermoral buruk tentu saja sangat berbahaya.
Moral yang baik dapat dikembangkan dengan menanamkan nilai-nilai dalam pembelajaran. Harus diakui saat ini sekolah terlalu fokus pada penguasaan materi pembelajaran secara dangkal. Dangkal dalam arti hanya berupa hafalan-hafalan semata. Pembelajaran yang demikian menghasilkan manusia yang mekanis. Pemikiran mekanis selalu memandang sesuatu dengan dua kemungkinan dan jawaban saja, ya atau tidak. Pemikiran seperti ini kemudian menjadikan seseorang tidak fleksibel, kurang mampu menerima perbedaan, dan cenderung tidak peduli pada orang lain dan lingkungan, termasuk tata krama, norma, maupun hukum yang berlaku.
Selain itu, seyogyanya sekolah juga mengembangkan kemampuan-kemampuan yang lain. Kemampuan itu antara lain kemampuan bekerjasama, komunikasi, perencanaan, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan. Kemampuan-kemampuan tersebut akan dapat berkembang bila anak mempunyai percaya diri, inisiatif, kreatifitas, dan rasa ingin tahu yang besar.
Nah, dengan demikian belajar akan bermakna dan memberdayakan anak bila didalamnya secara sengaja direncanakan anak mendapatkan pengalaman yang baru dan mengasah kemampuan-kemampuan dasar.
Tampaknya kita perlu mengubah cara pikir dan cara pandang tentang belajar. Belajar bukanlah sekedar penguasaaan materi, tetapi bagaimana memberdayakan potensi dan mengembangkan diri. Materi sebagai sesuatu yang harus dikuasai tidak ditempatkan sebagai tujuan tertinggi dalam belajar. Materi merupakan sarana saja, bukan sebagai tujuan akhir.
Selasa, 25 Januari 2011
Guru yang Baik Memberi Sugesti, Bukan Dogma, dan Memberi Inspirasi Kepada Anak Didiknya Agar Bisa Mengajari Diri Sendiri
Salah satu harapan orangtua menyekolahkan anaknya adalah kelak anaknya akan mandiri. Ya, walaupun dalam kenyataannya kita sering menemukan apa yang dilakukan orangtua bertentangan dengan harapannya tadi. Tapi kita tidak sedang akan membahas hal tersebut. Kenapa sugesti, bukan dogma? Pentingkah sugesti?
Belajar adalah usaha untuk mengembangkan diri. Usaha untuk mengembangkan diri, bukan orang lain. Tentu saja pernyataan ini mengandung arti bahwa belajar adalah kegiatan individual, dilakukan oleh dan untuk diri sendiri, walaupun dalam pelaksanaannya dilakukan secara bersama-sama.
Nah, tugas guru adalah membantu anak supaya bisa belajar, bukan mengajarinya. Hmm, sepertinya ini bertentangan dengan paradigma yang sudah mengakar kuat, guru adalah orang yang pekerjaannya mengajari orang lain.
Bagaimana supaya anak bisa belajar? Memang cukup rumit mengurai benang kusut sistem pembelajaran pasif. Pasif, karena belajar itu dipandang sebagai menerima. Menerima ilmu, menerima materi, menerima rumus, dan menerima yang lainnya. Jadilah proses belajar sebagai aktifitas menampung dogma. Bahkan yang demikian ini tidak bisa disebut belajar. Tidak ada pengembangan diri.
Supaya bisa belajar, anak harus punya kesempatan. Orang disekelilingnya yang menyediakan kesempatan itu. Orangtua dan guru memberi ruang aktivitas yang luas, dan tidak merampoknya dengan sebuah kata, mengajari.
Setelah punya ruang, anak perlu merasa aman dan nyaman. Lagi-lagi orangtua dan guru yang memberi rasa aman dan nyaman. Jangan sampai orangtua dan guru mengikis perasaan ini. Anak akan merasa aman kalau aktivitasnya sesuai dengan tahap perkembangan dan kemampuannya, jelas apa yang dilakukan dan tujuan yang ingin dicapai.
Selanjutnya, untuk bisa belajar anak perlu merasa bisa. Ini sebuah syarat mutlak. Keyakinan bahwa dirinya mampu merupakan bahan bakar yang mampu menghidupkan motivasi dan semangat, juga mengaktifkan neuron-neuron otak. Disinilah sebuah sugesti diperlukan. Guru hendaknya selalu mempompakan keyakinan ini. Tidak hanya lewat kata-kata, tapi juga tindakan dan ekspresi. Misalnya, selalu menunjukkan wajah optimis dan bergairah kepada setiap anak. Tidak ada perbedaan ekspresi ketika berhadapan dengan seorang anak dan anak yang lain.
Saat mendapat sugesti, anak akan merasa dirinya berharga, mampu, dan mendapat dukungan. Hal ini membuatnya lebih mudah melangkah kerja, sebab mendapat kekuatan luar biasa dari dalam diri, yang kemudian membentuk niat yang kuat. Niat yang kuat akan mendapat dukungan dari lingkungan. Semesta mendukung, kata Yohanes Surya.
Belajar adalah usaha untuk mengembangkan diri. Usaha untuk mengembangkan diri, bukan orang lain. Tentu saja pernyataan ini mengandung arti bahwa belajar adalah kegiatan individual, dilakukan oleh dan untuk diri sendiri, walaupun dalam pelaksanaannya dilakukan secara bersama-sama.
Nah, tugas guru adalah membantu anak supaya bisa belajar, bukan mengajarinya. Hmm, sepertinya ini bertentangan dengan paradigma yang sudah mengakar kuat, guru adalah orang yang pekerjaannya mengajari orang lain.
Bagaimana supaya anak bisa belajar? Memang cukup rumit mengurai benang kusut sistem pembelajaran pasif. Pasif, karena belajar itu dipandang sebagai menerima. Menerima ilmu, menerima materi, menerima rumus, dan menerima yang lainnya. Jadilah proses belajar sebagai aktifitas menampung dogma. Bahkan yang demikian ini tidak bisa disebut belajar. Tidak ada pengembangan diri.
Supaya bisa belajar, anak harus punya kesempatan. Orang disekelilingnya yang menyediakan kesempatan itu. Orangtua dan guru memberi ruang aktivitas yang luas, dan tidak merampoknya dengan sebuah kata, mengajari.
Setelah punya ruang, anak perlu merasa aman dan nyaman. Lagi-lagi orangtua dan guru yang memberi rasa aman dan nyaman. Jangan sampai orangtua dan guru mengikis perasaan ini. Anak akan merasa aman kalau aktivitasnya sesuai dengan tahap perkembangan dan kemampuannya, jelas apa yang dilakukan dan tujuan yang ingin dicapai.
Selanjutnya, untuk bisa belajar anak perlu merasa bisa. Ini sebuah syarat mutlak. Keyakinan bahwa dirinya mampu merupakan bahan bakar yang mampu menghidupkan motivasi dan semangat, juga mengaktifkan neuron-neuron otak. Disinilah sebuah sugesti diperlukan. Guru hendaknya selalu mempompakan keyakinan ini. Tidak hanya lewat kata-kata, tapi juga tindakan dan ekspresi. Misalnya, selalu menunjukkan wajah optimis dan bergairah kepada setiap anak. Tidak ada perbedaan ekspresi ketika berhadapan dengan seorang anak dan anak yang lain.
Saat mendapat sugesti, anak akan merasa dirinya berharga, mampu, dan mendapat dukungan. Hal ini membuatnya lebih mudah melangkah kerja, sebab mendapat kekuatan luar biasa dari dalam diri, yang kemudian membentuk niat yang kuat. Niat yang kuat akan mendapat dukungan dari lingkungan. Semesta mendukung, kata Yohanes Surya.
Label:
guru yang baik,
memberi sugesti,
mestakung
Berpusat Pada Anak
Belajar adalah proses menjadikan anak menjadi tahu, mengerti, memahami dan menginternalisasi pengetahuan. Dalam hal ini tentu saja anak merupakan subjek sekaligus pusat kegiatan belajar.
Sebagai pusat pembelajaran, kebutuhan anak harus terpenuhi. Anak perlu merasa aman, nyaman, berharga, dicintai, dan dipahami. Ini adalah kebutuhan primer, tidak bisa dihilangkan. Perasaan aman, nyaman, berharga, dicintai, dan dipahami akan mendorong munculnya motivasi dan kesadaran anak untuk belajar.
Setelah tumbuh motivasi belajarnya, anak perlu hal yang menyenangkan dalam belajar. Apa yang dekat dan dikenal baik oleh anak merupakan hal yang menyenangkan bagi anak. Oleh sebab itu, pembelajaran dikejar ke arah yang kontekstual. Sesuatu yang akan mudah dipahami anak karena anak sudah mendapatkan pengalamaan dalam bentuk lain yang berhubungan dengan materi yang dibelajarkan.
Apakah ini berarti pembelajaran sudah berpusat pada anak? Belum! Berpusat pada anak berarti pembelajaran dan semua yang menyertainya disesuaikan dengan kebutuhan, gaya dan cara belajar, kemampuan, serta kondisi mental, psikologis, dan sosial anak. Artinya guru perlu mengenali benar anak didiknya. Mengetahui hobi, makanan kesukaan dan “hal-hal kecil” lainnya mutlak diperlukan.
Selanjutnya guru mempersiapkan skenario pembelajaran dimana setiap anak mempunyai kesempatan berkembang secara optimal dengan semua latar belakang yang dimilikinya. Derajat keberagaman metode dan pendekatan pembelajaran berbanding lurus dengan tingkat kemajemukan yang ada dalam kelas.
Prinsip pembelajaran yang berpusat pada anak lainnya adalah menjadikan anak sebagai subjek pembelajaran. Sebagai subjek, anaklah yang aktif membangun pengetahuannya. Jika ternyata guru masih dominan dalam proses pembelajaran, maka ia sudah mengambil hak anak untuk memberdayakan dirinya.
Makna lainnya adalah apa yang dibelajarkan berangkat dari kebutuhan anak, cara mengajarkannya sesuai dengan kondisi anak, dan pendekatan yang dipakai berdasarkan dunia anak.
Kebutuhan tiap anak sangat beragam. Dari segi kemampuan, ada yang perlu pengayaan, ada juga yang perlu pengulangan. Perlakuan pun berbeda. Memotivasi tidak akan sama caranya bagi setiap anak. Termasuk didalamnya cara berkomunikasi, menyelesaikan masalah, dan cara melakukan pendekatan.
Pembelajaran yang berpusat pada anak membuat anak memahami pentingnya materi yang dipelajari. Membantu mereka mengidentifikasi manfaatnya bagi diri sendiri untuk kemudian dipancarkan bagi kemanfaatan manusia.
Hal ini mensyaratkan adanya proses pemaknaan materi, bukan sekedar menguasainya saja. Pemaknaan akan terjadi bila anak mengetahui manfaat bagi dirinya. Disinilah muncul keragaman. Anak bisa mengidentifikasi manfaat yang berbeda dari temannya. Nah, saat itulah guru mempunyai peran menguatkannya sehingga anak memperoleh pelecut semangat sekaligus melakukan aktivitas belajar dengan kesadaran diri.
Sedangkan dari sisi materi, pembelajaran yang berpusat pada anak memilih materi yang dekat dengan anak. Materi selalu dikaitkan dengan pengalaman-pengalaman yang pernah dirasakan. Materi yang bersifat abstrak sebisa mungkin dibawa dalam bentuk yang konkret.
Pembelajaran yang berpusat pada anak mensyaratkan keterlibatan anak. Pembelajaran diorientasikan pada pengalaman secara langsung, hingga pada akhirnya anak bisa menemukan hubungan antara materi dengan situasi kehidupan nyata. Tidak hanya berhenti di pemahaman, dalam pembelajaran yang berpusat pada anak seorang anak mendapatkan bimbingan agar mampu mengaplikasikan pengetahuan dalam kehidupan.
Sebagai pusat pembelajaran, kebutuhan anak harus terpenuhi. Anak perlu merasa aman, nyaman, berharga, dicintai, dan dipahami. Ini adalah kebutuhan primer, tidak bisa dihilangkan. Perasaan aman, nyaman, berharga, dicintai, dan dipahami akan mendorong munculnya motivasi dan kesadaran anak untuk belajar.
Setelah tumbuh motivasi belajarnya, anak perlu hal yang menyenangkan dalam belajar. Apa yang dekat dan dikenal baik oleh anak merupakan hal yang menyenangkan bagi anak. Oleh sebab itu, pembelajaran dikejar ke arah yang kontekstual. Sesuatu yang akan mudah dipahami anak karena anak sudah mendapatkan pengalamaan dalam bentuk lain yang berhubungan dengan materi yang dibelajarkan.
Apakah ini berarti pembelajaran sudah berpusat pada anak? Belum! Berpusat pada anak berarti pembelajaran dan semua yang menyertainya disesuaikan dengan kebutuhan, gaya dan cara belajar, kemampuan, serta kondisi mental, psikologis, dan sosial anak. Artinya guru perlu mengenali benar anak didiknya. Mengetahui hobi, makanan kesukaan dan “hal-hal kecil” lainnya mutlak diperlukan.
Selanjutnya guru mempersiapkan skenario pembelajaran dimana setiap anak mempunyai kesempatan berkembang secara optimal dengan semua latar belakang yang dimilikinya. Derajat keberagaman metode dan pendekatan pembelajaran berbanding lurus dengan tingkat kemajemukan yang ada dalam kelas.
Prinsip pembelajaran yang berpusat pada anak lainnya adalah menjadikan anak sebagai subjek pembelajaran. Sebagai subjek, anaklah yang aktif membangun pengetahuannya. Jika ternyata guru masih dominan dalam proses pembelajaran, maka ia sudah mengambil hak anak untuk memberdayakan dirinya.
Makna lainnya adalah apa yang dibelajarkan berangkat dari kebutuhan anak, cara mengajarkannya sesuai dengan kondisi anak, dan pendekatan yang dipakai berdasarkan dunia anak.
Kebutuhan tiap anak sangat beragam. Dari segi kemampuan, ada yang perlu pengayaan, ada juga yang perlu pengulangan. Perlakuan pun berbeda. Memotivasi tidak akan sama caranya bagi setiap anak. Termasuk didalamnya cara berkomunikasi, menyelesaikan masalah, dan cara melakukan pendekatan.
Pembelajaran yang berpusat pada anak membuat anak memahami pentingnya materi yang dipelajari. Membantu mereka mengidentifikasi manfaatnya bagi diri sendiri untuk kemudian dipancarkan bagi kemanfaatan manusia.
Hal ini mensyaratkan adanya proses pemaknaan materi, bukan sekedar menguasainya saja. Pemaknaan akan terjadi bila anak mengetahui manfaat bagi dirinya. Disinilah muncul keragaman. Anak bisa mengidentifikasi manfaat yang berbeda dari temannya. Nah, saat itulah guru mempunyai peran menguatkannya sehingga anak memperoleh pelecut semangat sekaligus melakukan aktivitas belajar dengan kesadaran diri.
Sedangkan dari sisi materi, pembelajaran yang berpusat pada anak memilih materi yang dekat dengan anak. Materi selalu dikaitkan dengan pengalaman-pengalaman yang pernah dirasakan. Materi yang bersifat abstrak sebisa mungkin dibawa dalam bentuk yang konkret.
Pembelajaran yang berpusat pada anak mensyaratkan keterlibatan anak. Pembelajaran diorientasikan pada pengalaman secara langsung, hingga pada akhirnya anak bisa menemukan hubungan antara materi dengan situasi kehidupan nyata. Tidak hanya berhenti di pemahaman, dalam pembelajaran yang berpusat pada anak seorang anak mendapatkan bimbingan agar mampu mengaplikasikan pengetahuan dalam kehidupan.
Label:
abstrak,
belajar proses,
berpusat pada anak
Belajar adalah Mengalir, Dinamis, Penuh Risiko, Menggairahkan
Kalimat ini sangat saya gemari. Saya mendapatkan kekuatan setiap kali saya membaca atau mengucapkannya. Kekuatan magis yang mampu memberi energi untuk selalu semangat pergi ke sekolah.
Saya selalu membayangkan bahwa belajar itu tidak kaku. Mengajar tidaklah seperti melaksanakan peraturan atau undang-undang, juga bukan sebuah rencana mutlak, sangat tergantung pada situasi yang dihadapi. Bisa jadi rencana tinggal rencana. Ya nggak apa-apa.
Lalu, apakah kita tak perlu mempersiapkan rencana pembelajaran? Tidak juga. Rencana pembelajaran harus dibuat, meski bukan berarti harus ditulis dalam format-format tertentu.
Menurut saya, tugas seorang guru yang lebih penting adalah membuat rencana pembelajaran yang asyik, yang membuat anak ketagihan. Ini tentu saja memerlukan energi dan waktu yang cukup untuk mempersiapkannya.
Rencana yang dibuat bukanlah tak boleh berubah. Belajar tak hanya aktivitas fisik, juga terlibat mental di dalamnya. Emosi sangat berpengaruh dalam belajar. Oleh karena itu seorang guru harus mempunyai kejelian dalam melihat keadaan emosi murid-muridnya. Apa yang sedang mereka rasakan, apa bahan pembicaraan mereka, permainan yang sedang digemari, dan hal lainnya.
Maka ketika rencana yang kita buat tak selaras dengan keadaan anak, saat itu juga harus diubah. Diubah bisa berarti diganti secara ekstrem, bisa juga diadaptasi, tergantung situasi.
Dengan demikian, seorang Guru harus bersiap diri akan segala kemungkinan. Boleh jadi, yang semula direncanakan membuat anak merasa asyik, malahan nggak rame atau bahkan ditolak siswa. Dalam hal seperti ini tidak pada tempatnya Guru memaksakan siswa mengikuti apa yang sudah direncanakan. Kalau anak ajukan keberatan atau usul, jangan langsung dipatahkan. Justru keberanian menyampaikan perasaan dan menawarkan solusi seperti ini harus dikembangkan.
Atau ternyata guru mendeteksi sebuah kegiatan mengasyikkan yang dilakukan anak-anak saat istirahat, maka bisa saja rencana pembelajaran saat itu juga berubah. Secara materi tidak ada yang berubah, namun setting kegiatan yang disesuaikan. Dalam arti yang lebih luas dapat dikatakan bahwa semua aktivitas adalah belajar. Belajar tidak dibatasi ruang dan waktu. Ini barangkali yang dimaksud dengan mengalir.
Air akan mengalir baik kalau ada saluran. Saluran belajar terbuka saat anak ’memberi ijin’ Guru mengajar. Maka dapatkanlah ijin itu -- kalau tidak apa yang kita ajarkan akan meluap ke luar saluran.
Air akan mengalir lancar kalau sedikit penghalangnya -- maka buanglah sebanyak mungkin apapun yang menghalangi proses belajar. Rasa takut, malu, cemas, dan perasaan negatif lainnya jangan ada dalam belajar. Tugas Guru meminimalkan penghalang, kalau mungkin menghilangkannya.
Mengalir juga berarti cair. Cair dalam hubungan antara individu, cair dalam materi. Maksudnya, materi bisa berkembang atau dipelajari lebih dalam. Ini tentu saja memerlukan fleksibilitas. Berarti belajar tidak selalu ceramah atau mengerjakan latihan. Belajar tidak harus di kelas. Belajar bukan hanya membaca atau menulis. Belajar itu banyak kegiatannya. Dan karenanya, belajar selalu berkembang.
Belajar merupakan sebuah usaha. Usaha membangun pengetahuan. Namanya juga usaha, kadang sukses kadang harus mengulang. Artinya, ada resiko gagal. Kegagalan yang dimaksud bukan hasil akhirnya gagal, tapi gagal dalam prosesnya sehingga perlu pengulangan.
Mempelajari sesuatu yang baru kadang menimbulkan ketegangan. Anak ragu, atau bahkan takut memasuki sesuatu yang baru. Perlu usaha agar ketegangan anak tak berlangsung lama. Saat mempelajari sesuatu yang baru upayakan anak merasa aman dan nyaman, tidak takut 'diketawai' atau dimarahi. Tidak takut mencoba, dan terus mencoba. Punya kegigihan, tidak kenal putus asa. TG
Suhud Rois
Sekolah Interaktif Gemilang Mutafannin,
Kab. Bandung Barat, Jabar
*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569
Saya selalu membayangkan bahwa belajar itu tidak kaku. Mengajar tidaklah seperti melaksanakan peraturan atau undang-undang, juga bukan sebuah rencana mutlak, sangat tergantung pada situasi yang dihadapi. Bisa jadi rencana tinggal rencana. Ya nggak apa-apa.
Lalu, apakah kita tak perlu mempersiapkan rencana pembelajaran? Tidak juga. Rencana pembelajaran harus dibuat, meski bukan berarti harus ditulis dalam format-format tertentu.
Menurut saya, tugas seorang guru yang lebih penting adalah membuat rencana pembelajaran yang asyik, yang membuat anak ketagihan. Ini tentu saja memerlukan energi dan waktu yang cukup untuk mempersiapkannya.
Rencana yang dibuat bukanlah tak boleh berubah. Belajar tak hanya aktivitas fisik, juga terlibat mental di dalamnya. Emosi sangat berpengaruh dalam belajar. Oleh karena itu seorang guru harus mempunyai kejelian dalam melihat keadaan emosi murid-muridnya. Apa yang sedang mereka rasakan, apa bahan pembicaraan mereka, permainan yang sedang digemari, dan hal lainnya.
Maka ketika rencana yang kita buat tak selaras dengan keadaan anak, saat itu juga harus diubah. Diubah bisa berarti diganti secara ekstrem, bisa juga diadaptasi, tergantung situasi.
Dengan demikian, seorang Guru harus bersiap diri akan segala kemungkinan. Boleh jadi, yang semula direncanakan membuat anak merasa asyik, malahan nggak rame atau bahkan ditolak siswa. Dalam hal seperti ini tidak pada tempatnya Guru memaksakan siswa mengikuti apa yang sudah direncanakan. Kalau anak ajukan keberatan atau usul, jangan langsung dipatahkan. Justru keberanian menyampaikan perasaan dan menawarkan solusi seperti ini harus dikembangkan.
Atau ternyata guru mendeteksi sebuah kegiatan mengasyikkan yang dilakukan anak-anak saat istirahat, maka bisa saja rencana pembelajaran saat itu juga berubah. Secara materi tidak ada yang berubah, namun setting kegiatan yang disesuaikan. Dalam arti yang lebih luas dapat dikatakan bahwa semua aktivitas adalah belajar. Belajar tidak dibatasi ruang dan waktu. Ini barangkali yang dimaksud dengan mengalir.
Air akan mengalir baik kalau ada saluran. Saluran belajar terbuka saat anak ’memberi ijin’ Guru mengajar. Maka dapatkanlah ijin itu -- kalau tidak apa yang kita ajarkan akan meluap ke luar saluran.
Air akan mengalir lancar kalau sedikit penghalangnya -- maka buanglah sebanyak mungkin apapun yang menghalangi proses belajar. Rasa takut, malu, cemas, dan perasaan negatif lainnya jangan ada dalam belajar. Tugas Guru meminimalkan penghalang, kalau mungkin menghilangkannya.
Mengalir juga berarti cair. Cair dalam hubungan antara individu, cair dalam materi. Maksudnya, materi bisa berkembang atau dipelajari lebih dalam. Ini tentu saja memerlukan fleksibilitas. Berarti belajar tidak selalu ceramah atau mengerjakan latihan. Belajar tidak harus di kelas. Belajar bukan hanya membaca atau menulis. Belajar itu banyak kegiatannya. Dan karenanya, belajar selalu berkembang.
Belajar merupakan sebuah usaha. Usaha membangun pengetahuan. Namanya juga usaha, kadang sukses kadang harus mengulang. Artinya, ada resiko gagal. Kegagalan yang dimaksud bukan hasil akhirnya gagal, tapi gagal dalam prosesnya sehingga perlu pengulangan.
Mempelajari sesuatu yang baru kadang menimbulkan ketegangan. Anak ragu, atau bahkan takut memasuki sesuatu yang baru. Perlu usaha agar ketegangan anak tak berlangsung lama. Saat mempelajari sesuatu yang baru upayakan anak merasa aman dan nyaman, tidak takut 'diketawai' atau dimarahi. Tidak takut mencoba, dan terus mencoba. Punya kegigihan, tidak kenal putus asa. TG
Suhud Rois
Sekolah Interaktif Gemilang Mutafannin,
Kab. Bandung Barat, Jabar
*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569
Belajar Itu Bisa Menyenangkan
Anak-anak duduk diam dalam deretan meja yang tidak pernah berganti susunannya dari tahun ke tahun, dari pagi sampai siang. Inilah pemandangan umum kelas-kelas sekolah di Indonesia. Ini baru pemandangan sepintas. Kalau lebih diperhatikan, akan tampak wajah-wajah tegang menanti berbunyinya bel tanda pulang, dan...bebas!
Mengapa demikian? Karena mereka sedang belajar. Belajar itu tidak boleh main-main. Harus serius. Materi yang dipelajari begitu banyak. Yang harus dihafalkan tentu saja tak kalah banyak. Kalau main-main pasti ketinggalan.
Memang benar, yang namanya belajar itu harus serius. Tapi serius bukan berarti kaku, penuh larangan dan peraturan. Apalagi dalam belajar. Belajar merupakan kegiatan yang menggunakan banyak aspek. Ada emosi yang bermain disana. Emosi positif terbukti mendukung efektivitas belajar. Rasa takut, cemas, dan ketegangan tidak bisa memaksimalkan potensi otak.
Bagaimana belajar bisa menyenangkan? Sebagai orang yang berinteraksi dengan anak, guru harus bisa melepaskan semua ketegangan anak. Tidak perlu ragu untuk bercanda dan bermain-main dengan mereka. Ini sama sekali tidak menurunkan wibawa guru. Cobalah untuk lebih terbuka, dekat, dan akrab dengan mereka. Menanyakan kabar atau ngobrol tentang kegemaran bisa jadi salah satu caranya.
Selain itu, simpanlah dulu buku paket. Buat kegiatan belajar yang tidak biasa, bukan hanya ceramah, mengerjakan tugas atau membaca. Misalnya bermain drama atau game. Pada awalnya (mungkin) anak akan canggung atau ragu-ragu. Tidak apa-apa, karena nanti mereka akan minta lagi. Kegiatan belajar lain yang menantang juga harus dicoba.
Setting kelas juga diperhatikan. Kelas yang penuh hiasan bisa menambah gairah anak dalam belajar. Poster, tulisan, dan ikon penyemangat dapat dijadikan hiasan kelas.
Pengakuan, perayaan, dan penghargaan diperlukan untuk menjaga agar atmosfer belajar terjaga. Anak merasa dihargai dan berarti. Ini merupakan modal penting untuk belajar.
Lebih dari itu, susana bebas tekananlah yang mutlak ada jika ingin belajar yang menyenangkan. Anak senang belajar, bukankah itu harapan kita? Jadi yang tepat bukan belajar itu bisa benyenangkan, tapi belajar harus menyenangkan.
Mengapa demikian? Karena mereka sedang belajar. Belajar itu tidak boleh main-main. Harus serius. Materi yang dipelajari begitu banyak. Yang harus dihafalkan tentu saja tak kalah banyak. Kalau main-main pasti ketinggalan.
Memang benar, yang namanya belajar itu harus serius. Tapi serius bukan berarti kaku, penuh larangan dan peraturan. Apalagi dalam belajar. Belajar merupakan kegiatan yang menggunakan banyak aspek. Ada emosi yang bermain disana. Emosi positif terbukti mendukung efektivitas belajar. Rasa takut, cemas, dan ketegangan tidak bisa memaksimalkan potensi otak.
Bagaimana belajar bisa menyenangkan? Sebagai orang yang berinteraksi dengan anak, guru harus bisa melepaskan semua ketegangan anak. Tidak perlu ragu untuk bercanda dan bermain-main dengan mereka. Ini sama sekali tidak menurunkan wibawa guru. Cobalah untuk lebih terbuka, dekat, dan akrab dengan mereka. Menanyakan kabar atau ngobrol tentang kegemaran bisa jadi salah satu caranya.
Selain itu, simpanlah dulu buku paket. Buat kegiatan belajar yang tidak biasa, bukan hanya ceramah, mengerjakan tugas atau membaca. Misalnya bermain drama atau game. Pada awalnya (mungkin) anak akan canggung atau ragu-ragu. Tidak apa-apa, karena nanti mereka akan minta lagi. Kegiatan belajar lain yang menantang juga harus dicoba.
Setting kelas juga diperhatikan. Kelas yang penuh hiasan bisa menambah gairah anak dalam belajar. Poster, tulisan, dan ikon penyemangat dapat dijadikan hiasan kelas.
Pengakuan, perayaan, dan penghargaan diperlukan untuk menjaga agar atmosfer belajar terjaga. Anak merasa dihargai dan berarti. Ini merupakan modal penting untuk belajar.
Lebih dari itu, susana bebas tekananlah yang mutlak ada jika ingin belajar yang menyenangkan. Anak senang belajar, bukankah itu harapan kita? Jadi yang tepat bukan belajar itu bisa benyenangkan, tapi belajar harus menyenangkan.
Lingkungan yang Kondusif Untuk Belajar
Lingkungan belajar tidak terbatas pada lingkungan fisik saja. Atmosfer yang dibangun juga merupakan faktor lingkungan yang berpengaruh cukup besar terhadap suasana pembelajaran. Suasana kelas merupakan pencerminan gaya manajemen kelas yang diterapkan guru.
Gaya manejemen yang permisif membiarkan anak melalukan apapun yang diinginkan tanpa ada kontrol yang kuat, serta tidak ada dukungan untuk mengembangkan keterampilan belajar. Akibatnya anak secara akademis kurang menguasai dan mempunyai kontrol diri yang lemah.
Gaya manejemen kelas yang otoritarian menekankan pada ‘ketertiban’, suasana yang kaku dan jalinan komunikasi yang buruk. Relasi guru-murid seperti halnya penguasa-rakyat, atasan-bawahan. Dalam kelas seperti ini anak-anak tidak berkembang kemampuan berpikir kreatif karena selalu dibatasi. Cenderung pasif dan tidak percaya diri. Kemampuan berkomunikasi dan mengekspresikan diri juga kurang berkembang.
Gaya manajemen kelas yang lebih baik adalah gaya otoritatif. Dalam gaya ini, anak memperoleh kebebasan tetapi masih ada kontrol-kontrol yang sifatnya tidak membatasi. Guru membuat aturan ataupun prosedur berdasarkan masukan dari anak, serta memberi penjelasan logis kenapa aturan tersebut dibuat.
Suasana kelas dibuat nyaman, dimana anak terbebas dari perasaan tertekan, cemas, dan takut, sekaligus penuh dengan tantangan. Kenyamanan dibangun oleh adanya penerimaan dan perasaan dipahami oleh orang lain. Dalam hal ini, guru memberi teladan bagaimana menerima orang lain apa adanya serta menunjukkan empati dan simpati kepada orang lain.
Penerimaan dan empati melahirkan rasa percaya diri dan menumbuhkan kepercayaan pada orang lain. Selanjutnya, hal ini akan mengangkat harga diri sang anak sehingga bisa mengaktualisasikan kemampuan dengan lebih baik. Ini adalah modal yang sangat berharga bagi kemajuan pembelajaran dan perkembangan kepribadian.
Selain dari sikap yang ditunjukkan warga kelas (dan sekolah), lingkungan yang kondusif juga memerlukan aturan, prosedur, kebijakan, dan kesepakatan sebagai pagar yang melindungi dari kemungkinan terjadinya penyimpangan.
Ada perbedaan antara aturan, prosedur, kebijakan, dan kesepakatan. Kesepakatan merupakan usaha-usaha untuk mendukung pemeblajaran yang lancar. Misalnya mendengarkan ketika ada yang sedang berbicara. Kebijakan adalah tindakan yang diambil pada situasi tertentu, untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Misalnya adanya penambahan hari untuk mengerjakan proyek bagi anak yang tidak masuk karena sakit, sejumlah hari dia sakit.
Prosedur menekankan tindakan dan apa yang diharapkan dilakukan anak. Prosedur memberi pedoman langkah-langkah apa yang harus dilakukan anak untuk kegiatan-kegiatan tertentu. Misalnya berdoa sebelum pelajaran dimulai. Prosedur menghasilkan kestabilan, kendali, dan struktur. Sedangkan peraturan dilengkapi dengan konsekunsi yang jelas jika terjadi pelanggaran. Konsekuensi tersebut merupakan konsekuensi logis yang masuk akal, tidak menyakiti fisik, serta tidak bermaksud untuk mempermalukan.
Fungsi aturan, prosedur, kebijakan, dan kesepakatan bukanlah untuk membatasi, tetapi memberikan kepastian dan struktur yang terarah. Anak akan merasa aman bila tahu dalam koridor yang mana boleh beraktivitas.
Supaya efektif, anak perlu tahu secara jelas apa peraturan, prosedur, kebijakan, dan kesepakatan yang berlaku. Akan lebih baik kalau anak dilibatkan dalam pembuatannya. Rasa tanggungjawab akan lebih besar jika anak terlibat.
Gaya manejemen yang permisif membiarkan anak melalukan apapun yang diinginkan tanpa ada kontrol yang kuat, serta tidak ada dukungan untuk mengembangkan keterampilan belajar. Akibatnya anak secara akademis kurang menguasai dan mempunyai kontrol diri yang lemah.
Gaya manejemen kelas yang otoritarian menekankan pada ‘ketertiban’, suasana yang kaku dan jalinan komunikasi yang buruk. Relasi guru-murid seperti halnya penguasa-rakyat, atasan-bawahan. Dalam kelas seperti ini anak-anak tidak berkembang kemampuan berpikir kreatif karena selalu dibatasi. Cenderung pasif dan tidak percaya diri. Kemampuan berkomunikasi dan mengekspresikan diri juga kurang berkembang.
Gaya manajemen kelas yang lebih baik adalah gaya otoritatif. Dalam gaya ini, anak memperoleh kebebasan tetapi masih ada kontrol-kontrol yang sifatnya tidak membatasi. Guru membuat aturan ataupun prosedur berdasarkan masukan dari anak, serta memberi penjelasan logis kenapa aturan tersebut dibuat.
Suasana kelas dibuat nyaman, dimana anak terbebas dari perasaan tertekan, cemas, dan takut, sekaligus penuh dengan tantangan. Kenyamanan dibangun oleh adanya penerimaan dan perasaan dipahami oleh orang lain. Dalam hal ini, guru memberi teladan bagaimana menerima orang lain apa adanya serta menunjukkan empati dan simpati kepada orang lain.
Penerimaan dan empati melahirkan rasa percaya diri dan menumbuhkan kepercayaan pada orang lain. Selanjutnya, hal ini akan mengangkat harga diri sang anak sehingga bisa mengaktualisasikan kemampuan dengan lebih baik. Ini adalah modal yang sangat berharga bagi kemajuan pembelajaran dan perkembangan kepribadian.
Selain dari sikap yang ditunjukkan warga kelas (dan sekolah), lingkungan yang kondusif juga memerlukan aturan, prosedur, kebijakan, dan kesepakatan sebagai pagar yang melindungi dari kemungkinan terjadinya penyimpangan.
Ada perbedaan antara aturan, prosedur, kebijakan, dan kesepakatan. Kesepakatan merupakan usaha-usaha untuk mendukung pemeblajaran yang lancar. Misalnya mendengarkan ketika ada yang sedang berbicara. Kebijakan adalah tindakan yang diambil pada situasi tertentu, untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Misalnya adanya penambahan hari untuk mengerjakan proyek bagi anak yang tidak masuk karena sakit, sejumlah hari dia sakit.
Prosedur menekankan tindakan dan apa yang diharapkan dilakukan anak. Prosedur memberi pedoman langkah-langkah apa yang harus dilakukan anak untuk kegiatan-kegiatan tertentu. Misalnya berdoa sebelum pelajaran dimulai. Prosedur menghasilkan kestabilan, kendali, dan struktur. Sedangkan peraturan dilengkapi dengan konsekunsi yang jelas jika terjadi pelanggaran. Konsekuensi tersebut merupakan konsekuensi logis yang masuk akal, tidak menyakiti fisik, serta tidak bermaksud untuk mempermalukan.
Fungsi aturan, prosedur, kebijakan, dan kesepakatan bukanlah untuk membatasi, tetapi memberikan kepastian dan struktur yang terarah. Anak akan merasa aman bila tahu dalam koridor yang mana boleh beraktivitas.
Supaya efektif, anak perlu tahu secara jelas apa peraturan, prosedur, kebijakan, dan kesepakatan yang berlaku. Akan lebih baik kalau anak dilibatkan dalam pembuatannya. Rasa tanggungjawab akan lebih besar jika anak terlibat.
Rabu, 10 Juni 2009
Sikap Positif
Belajar merupakan aktivitas multi inderawi. Ada faktor emosi yang berperan besar di dalamnya. Bahkan emosi merupakan faktor penentu keberhasilan belajar yang cukup besar.
Diawal, anak dikondisikan untuk merasa aman dan nyaman. Kondisi ini merupakan syarat terciptanya kemampuan belajar yang optimal. Anak tidak takut mengungkapkan rasa ingin tahunya, berani mencoba hal-hal baru tanpa ada beban takut salah, bertanya saat tidak tahu, dan berpendapat dengan penuh pertimbangan.
Apa yang orang perlukan ketika ragu-ragu? Sebenarnya tidak ada yang paling efektif menolongnya kecuali dirinya sendiri. Yang dapat menolongnya adalah keyakinan. Keyakinan bahwa apapun pilihannya, itu adalah sebuah keputusan yang harus diambil. Dengan demikian ia siap menerima apapun risikonya.
Keyakinan pulalah yang menjadi bahan bakar untuk bertahan dan mencapai kesuksesan. Banyak cerita sukses lahir dari sebuah keyakinan. Seorang atlet harus menerima kenyataan, 4 bulan menjelang olimpiade mendapat cedera saat latihan. Oleh dokter dinyatakan tidak akan pulih dalam waktu dekat. Pokoknya, peluang untuk ikut olimpiade sangat kecil, kalau tidak bisa dikatakan mustahil.
Lalu apa yang ia lakukan? Saat terbaring menunggu pulih dari cidera, ia selalu membayangkan dirinya sedang latihan di lintasan lari. Hal ini dilakukannya dengan penuh keyakinan bahwa ia tetap bisa menjaga kondisi dan meningkatkan kemampuaannya. Hasilnya? Iapun bisa ikut olimpiade dan memperoleh emas!
Tapi ini juga bukan berarti keyakinan adalah segala-galanya. Keyakinan akan menjadi faktor penentu kalau sebelumnya sudah ada bekal yang cukup. Sekali lagi, keyakinan adalah bahan bakar, yang tentu saja tidak berarti apa-apa kalau mesinnya tidak ada atau tidak kompatibel dalam usaha mencapai kesuksesan.
Saya akan membawa hal ini ke wilayah pembelajaran di sekolah. Adalah sangat penting menumbuhkan keyakinan pada anak. Yakin bahwa dirinya bisa, yakin bahwa apa yang akan dilakukan aman, yakin tidak akan dipermalukan, ditertawakan, atau dikatakan bodoh, yakin bahwa seluruh lingkungan akan mendukungnya.
Keyakinan ini akan menumbuhkan rasa aman, nyaman, dan percaya diri. Ketiga keadaan emosi inilah yang mendukung optimalnya proses belajar. Jadi merupakan suatu keharusan bagi seorang guru membuat anak merasa aman dan nyaman, serta menumbuhkan rasa percaya diri anak.
Apa yang harusnya dilakukan seorang guru kalau ada seorang anak sedang mendapatkan masalah dalam menyelesaikan tugasnya? Misalnya belum memahami apa yang harus dikerjakan. Apakah guru akan memarahinya, atau mengatakan bahwa ia bodoh? Atau apakah seorang guru selalu memberikan instruksi dan teguran sepanjang waktu belajar sehingga anak merasa diperlakukan sebagai anak yang tidak paham? Atau mungkin guru selalu mengancam dengan berbagai hal dan membanding-bandingkan anak?
Semua tindakan tadi membuat suasana belajar tidak nyaman. Ada perasaan tertekan, takut, dan direndahkan. So, perasaan-perasaan itu mengikuti proses belajar. Akibatnya tentu saja anak harus bertarung dengan perasaan-perasaan negatif tersebut. Ini tentu saja mempengaruhi kualitas belajarnya. Belajar tidak menjadi tempat yang menyenangkan.
Di sisi lain, keyakinan harus selalu dipompakan pada diri anak. Cari dan nyatakan kemampuan anak secara lugas. Beri kesempatan kepada anak untuk menunjukkan kemampuannya, dalam bidang apapun. Sebaiknya guru tidak banyak bicara sehingga anak mempunyai kesempatan untuk tampil. Kritik juga tidak diberikan saat anak sedang bekerja.
Diawal, anak dikondisikan untuk merasa aman dan nyaman. Kondisi ini merupakan syarat terciptanya kemampuan belajar yang optimal. Anak tidak takut mengungkapkan rasa ingin tahunya, berani mencoba hal-hal baru tanpa ada beban takut salah, bertanya saat tidak tahu, dan berpendapat dengan penuh pertimbangan.
Apa yang orang perlukan ketika ragu-ragu? Sebenarnya tidak ada yang paling efektif menolongnya kecuali dirinya sendiri. Yang dapat menolongnya adalah keyakinan. Keyakinan bahwa apapun pilihannya, itu adalah sebuah keputusan yang harus diambil. Dengan demikian ia siap menerima apapun risikonya.
Keyakinan pulalah yang menjadi bahan bakar untuk bertahan dan mencapai kesuksesan. Banyak cerita sukses lahir dari sebuah keyakinan. Seorang atlet harus menerima kenyataan, 4 bulan menjelang olimpiade mendapat cedera saat latihan. Oleh dokter dinyatakan tidak akan pulih dalam waktu dekat. Pokoknya, peluang untuk ikut olimpiade sangat kecil, kalau tidak bisa dikatakan mustahil.
Lalu apa yang ia lakukan? Saat terbaring menunggu pulih dari cidera, ia selalu membayangkan dirinya sedang latihan di lintasan lari. Hal ini dilakukannya dengan penuh keyakinan bahwa ia tetap bisa menjaga kondisi dan meningkatkan kemampuaannya. Hasilnya? Iapun bisa ikut olimpiade dan memperoleh emas!
Tapi ini juga bukan berarti keyakinan adalah segala-galanya. Keyakinan akan menjadi faktor penentu kalau sebelumnya sudah ada bekal yang cukup. Sekali lagi, keyakinan adalah bahan bakar, yang tentu saja tidak berarti apa-apa kalau mesinnya tidak ada atau tidak kompatibel dalam usaha mencapai kesuksesan.
Saya akan membawa hal ini ke wilayah pembelajaran di sekolah. Adalah sangat penting menumbuhkan keyakinan pada anak. Yakin bahwa dirinya bisa, yakin bahwa apa yang akan dilakukan aman, yakin tidak akan dipermalukan, ditertawakan, atau dikatakan bodoh, yakin bahwa seluruh lingkungan akan mendukungnya.
Keyakinan ini akan menumbuhkan rasa aman, nyaman, dan percaya diri. Ketiga keadaan emosi inilah yang mendukung optimalnya proses belajar. Jadi merupakan suatu keharusan bagi seorang guru membuat anak merasa aman dan nyaman, serta menumbuhkan rasa percaya diri anak.
Apa yang harusnya dilakukan seorang guru kalau ada seorang anak sedang mendapatkan masalah dalam menyelesaikan tugasnya? Misalnya belum memahami apa yang harus dikerjakan. Apakah guru akan memarahinya, atau mengatakan bahwa ia bodoh? Atau apakah seorang guru selalu memberikan instruksi dan teguran sepanjang waktu belajar sehingga anak merasa diperlakukan sebagai anak yang tidak paham? Atau mungkin guru selalu mengancam dengan berbagai hal dan membanding-bandingkan anak?
Semua tindakan tadi membuat suasana belajar tidak nyaman. Ada perasaan tertekan, takut, dan direndahkan. So, perasaan-perasaan itu mengikuti proses belajar. Akibatnya tentu saja anak harus bertarung dengan perasaan-perasaan negatif tersebut. Ini tentu saja mempengaruhi kualitas belajarnya. Belajar tidak menjadi tempat yang menyenangkan.
Di sisi lain, keyakinan harus selalu dipompakan pada diri anak. Cari dan nyatakan kemampuan anak secara lugas. Beri kesempatan kepada anak untuk menunjukkan kemampuannya, dalam bidang apapun. Sebaiknya guru tidak banyak bicara sehingga anak mempunyai kesempatan untuk tampil. Kritik juga tidak diberikan saat anak sedang bekerja.
Langganan:
Postingan (Atom)